August 30, 2007

Mengenang Soe Hok Gie…

Filed under: news

 

Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran
Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi
Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan

Soe Hok Gie lahir di Jakarta 17 Desember 1942 sebagai putra keempat dari
keluarga Soe Lie Piet. Lingkungan keluarga yang tinggal di pemukiman padat
di kawasan Kebun Jeruk/Sawah Besar Jakarta Pusat ini akrab dengan literatur.
Ayahnya, Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan adalah seorang wartawan dan
penulis.

Dari segi ekonomi, mereka memang serba sederhana, tetapi tidak dalam
penjelajahan intelektual. Soe Hok Gie dan kakaknya, Soe Hok Djien (Arief
Budiman), sudah akrab dengan bacaan sastra dan filsafat sejak duduk di
bangku sekolah menengah. Soe Hok Gie menjadi mahasiswa jurusan Sejarah
Fakultas Sastra UI, sedangkan Arief Budiman menjadi mahasiswa Fakultas
Psikologi UI.

Soe Hok Gie menulis skripsi sarjana mudanya mengenai Sarekat Islam Semarang
yang kemudian dibukukan dengan judul Di Bawah Lentera Merah (Bentang Budaya,
1999). Skripsi sarjananya (ia lulus Mei 1969) adalah tentang pemberontakan
PKI Moeso 1948 yang juga dibukukan dengan judul Orang-orang di Persimpangan
Jalan (Bentang Budaya, 1997).

Sementara itu, tulisan Soe Hok Gie yang merupakan refleksi tiga tahun Orde
Baru, yang menceritakan tentang teman-temannya yang menjadi anggota DPR-GR,
dan perilaku mahasiswa, telah dibukukan pula dengan judul Zaman Peralihan
(Bentang Budaya,1995). Catatan hariannya pada tahun 1983 diterbitkan oleh
LP3ES dengan judul Catatan Seorang Demonstran. Setelah meraih
kesarjanaannya, Soe Hok Gie mengabdi pada almamaternya, dengan menjabat
sebagai dosen.

Sebagai mahasiswa, Soe Hok Gie menjadi Ketua Senat Fakultas Sastra dan
menjadi salah satu pendiri Mapala-UI dan Grup Diskusi UI (GD-UI). Ia pun
aktif dalam Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMSOS). Di akhir 1965 dan awal 1966,
Hok Gie diketahui secara terbuka mendukung jenderal-jenderal TNI-AD dengan
harapan bahwa mereka akan membawa Indonesia kepada suatu masyarakat yang
adil dan sederajat. Ia malah dikabarkan menjadi salah satu tokoh kunci
terjadinya aliansi Mahasiswa-ABRI pada tahun 1966. Tapi menjelang akhir
1969, semakin jelas baginya bahwa ia telah salah menaruh kepercayaan. Ia
melihat kekuasaan militer menjadi sosok yang fasistis.

Hok Gie juga duduk di LPKB (Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa) yang
didirikan oleh kelompok masyarakat keturunan Cina. Ia agaknya lebih setuju
dengan pendekatan yang dilakukan LPKB ketimbang yang dilakukan oleh Baperki
(Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia, juga kelompok besar
golongan Tionghoa). Bulan Februari 1963, ia ikut sebagai delegasi pemuda
yang setuju dengan asimilasi menemui Presiden Soekarno. Tapi
kritik-kritiknya Hok Gie pada LPKB membuatnya ia dipecat dari lembaga
tersebut.

Patriotisme

Bagi Hok Gie, gunung adalah tempat untuk menguji kepribadian dan keteguhan
hati seseorang. Ia juga mengatakan: "Hanya di puncak gunung aku merasa
bersih." Tapi lebih dari itu, kecintaannya pada alam adalah bagian penting
dari kejiwaan cinta-Tanah Airnya.

Patriotisme, katanya, tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan.
Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal
obyeknya. "Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan
mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat".

Hok Gie memang seorang penjelajah alam dan pendaki gunung yang entusias. Ia
punya kekaguman tersendiri pada temannya, Herman Lantang, yang jago naik
gunung dan sedang menjelajahi hutan Irian Jaya. Hok Gie sendiri bercita-cita
suatu saat bisa mencapai gunung tertinggi di Jawa yakni Semeru.

Pada 15 Desember 1969, Hok Gie bersama kawan-kawannya Herman Lantang, Abdul
Rahman, Idhan Lubis, Aristides Katoppo, Rudy Badil, Freddy Lasut, Anton
Wiyana berangkat menuju Puncak Semeru melalui kawasan Tengger. Hok Gie ingin
bisa merayakan ulang tahunnya yang ke 27 di atap tertinggi Pulau Jawa
tersebut. Tanggal 16 Desember, di tengah angin kencang di ketinggian 3.676
meter (dari atas permukaan laut), Hok Gie, Idhan, Rahman terserang gas
beracun. Hok Gie dan Idhan berada dalam posisi yang tidak menguntungkan dan
nyawa mereka tidak sempat tertolong.

Cita-cita Soe Hok Gie untuk mati di tengah alam betul-betul kesampaian. Dan
tampaknya juga cocok dengan ungkapan dari puisi Yunani yang suka dikutipnya:
"Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati
muda, dan yang tersial adalah umur tua. Bahagialah mereka yang mati muda."

Lokasi musibah itu terpencil dan nyaris tidak bisa diakses. Helikopter dari
pangkalan TNI-AL Surabaya gagal mencapai lokasi karena cuaca buruk dan areal
yang terjal.

Melalui upaya dari darat, jenazah Hok Gie dan Idhan akhirnya bisa dibawa ke
Malang, 23 Desember 1969. Menjelang malam Natal 1969, pesawat Hercules
TNI-AU yang mengangkut Hok Gie dan Idhan mendarat di lapangan terbang
Kemayoran Jakarta. Di antara ratusan penyambut yang telah menanti berjam-jam
terdapat Prof Soemitro Djojohadikusumo, yang ketika itu menjabat sebagai
Menteri Perdagangan.

Soe Hok Gie dimakamkan di Menteng Pulo dan kemudian dipindahkan ke kuburan
zaman Belanda di Tanah Abang. Di nisan marmernya dituliskan kata-kata dari
lagu kesayangannya: "Nobody knows the troubles I see. Nobody knows my
sorrow." Tahun 1975, sisa jasad Hok Gie digali kembali untuk dikremasikan.
Abunya kemudian ditaburkan oleh sahabat-sahabatnya di lembah Mandala-wangi,
dekat Puncak Pangrango, tempat yang acapkali dikunjungi Hok Gie manakala ia
butuh kedamaian dan kesendirian.

 dikutip dari http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1999/11/27/0014.html